PUBG Membuat Anak-Anak Menjadi Agresif dan Tak Peduli dengan Dampak Kekerasan, Benarkah?

PUBG (Player Unknown Battle Ground) adalah permainan yang dapat dimainkan banyak orang secara online. Permainan ini tentunya bertajuk kompetitik dengan tema battle royals. Battle Royals merupakan sebuah film Jepang populer di tahun 2000-an yang berceritakan tentang sekelompok anak muda diletakkan dalam satu pulau, diberikan persediaan yang cukup, dan harus menjadi yang terakhir untuk bertahan hidup. Lingkup pulau tersebut juga semakin kecil agar para pemuda tersebut tetap akan bertemu satu sama lain untuk saling membunuh. Kesempatan untuk bersembunyi pun sangat minim di permainan ini. Anda harus membekali diri secara penyerangan dan juga pertahanan mulai dari vest, senjata tangan, senjata berkaliber berat, hingga kendaraan untuk mobilitas. Pemain di permainan ini dipaksa untuk harus berhadapan satu sama lain. Tentu permainan yang sangat menjunjung tinggi strategi bukan?

PUBG ini dilahirkan pada tahun 2017 silam dan jumlah pemainnya sudah mencapai 400 juta orang dalam lintas platform. Jika didefinisikan 50 juta orang bermain pada PC dan Xbox, maka 350 juta orang bermain pada versi mobile. Tahukah anda bahwa permainan PUBG ini dimainkan 227 juta pemain setiap harinya? Hal ini tentunya seperti layaknya sebuah negara Indonesia bermain.

Dewasa ini, tentunya perkembangan teknologi dapat mempengaruhi aspek kehidupan. Salah satunya, teknologi informasi seperti televisi, radio, internet, gadget tentu dapat mempengaruhi perilaku penggunanya. Hal ini terjadi pada anak-anak yang menjadi “autis” atau tidak memperdulikan lingkungan sekitar.

Banyak permasalahan ketika anak kecanduan bermain game,  terutama  permainan yang mengandung kekerasan. Pengaruh permainan yang bernuansa kekerasan mempengaruhi kemampuan berpikir dan emosi anak. Beberapa penelitian menyatakan bahwa permainan kekerasan akan merusak otak. Data dari penelitian di Amerika Serikat, 1 dari 10 pemain game (10%) mengalami gangguan kehidupan sosial, kehidupan sosial, penurunan prestasi dan motivasi belajar. Di negara China (10,3%), Australia (8%), Jerman (11,9%), Taiwan (7,5%), dan Singapura (7,6-9,9%) juga menunjukkan hasil yang sama. Namun belum ada penelitian yang valid untuk di Indonesia. Kecanduan bermain game dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Diantaranya yaitu dapat menyebabkan perilaku agresif, permasalahan dalam kontrol emosi, pengendalian diri, dan perubahan pada otak.

Anak-anak yang berulang kali bermain video game bertema kekerasan mempelajari pola pikir yang akan menempel pada mereka dan mempengaruhi perilaku mereka saat mereka bertambah tua. Dampak ini terjadi tanpa memandang usia, jenis kelamin atau budaya

Profesor psikologi di Iowa State University dan penulis utama penelitian tersebut, Douglas Gentile mengatakan bahwa proses otak benar-benar tidak berbeda dengan belajar matematika atau bermain piano. Jika Anda berlatih berulang kali, Anda memiliki pengetahuan di kepala. Hal ini sama halnya dengan permainan kekerasan. Anda berlatih bersikap waspada terhadap musuh, berlatih berpikir bahwa dapat diterima untuk menanggapi provokasi secara agresif, dan berlatih menjadi tidak peduli terhadap konsekuensi kekerasan, ujar professor Gantile seperti dikutip dari Daily Mail.

Peneliti menemukan bahwa seiring berjalannya waktu anak mulai berpikir lebih agresif. Saat diprovokasi di rumah, di sekolah atau dalam situasi lain, anak akan bereaksi seperti yang mereka lakukan saat bermain video game kekerasan.

Kebiasaan berpikir agresif yang berulang kali dapat mendorong efek jangka panjang dari permainan kekerasan dalam agresi. ‘Permainan video kekerasan merupakan model agresi fisik, kata Craig Anderson, direktur Pusat Studi Kekerasan di Iowa State University tersebut.

 Lebih lanjut Craig Anderson menambahkan mereka yang bermain video game kekerasan juga membalas pemain lainnya. Ini karena adanya rasa waspada terhadap niat bermusuhan dan menggunakan perilaku agresif untuk menyelesaikan konflik. Kebiasaan pemikiran agresif semacam itu dalam permainan ini meningkatkan kemampuan para pemain untuk berpikir agresif. Pada gilirannya, pemikiran agresif yang biasa ini meningkatkan agresivitas mereka dalam kehidupan nyata, ujar Anderson.
Namun dari semua itu, kembali lagi pada diri masing-masing. Orang tua harus bisa mengontrol anaknya dalam menyaring konten atau permainan yang disentuhnya. Anak-anak masih belum bisa dibilang mempunyai emosi yang stabil jika memainkan permainan yang bergenre pertarungan. Walaupun sudah beranjak dewasa dan mempunyai emosi yang stabil, tentunya hal tersebut juga tidak boleh dijadikan tumpuan. Bermain lah game PUBG ketika memang ada waktu luang dan penat. Ingat bahwa kamu sedang mempersiapkan juga tumbuhnya keluarga baru dengan mengatur waktu, ibadah, dan finansial yang baik.
#salam PUBG
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *