Instanid, Exhibitor Muda di Tech in Asia Jakarta 2016

“The only thing worse than starting something and failing… is not starting something.” – Seth Godin

1479534092826

M. Rezky Rahmansyah Rezky, CEO Instan Indonesia

Tidak ada yang menyangka saya dapat menghadiri konferensi startup terbesar di Asia tersebut. Berawal dari “iseng” untuk apply boothstrap alley Tech in Asia Jakarta 2016 secara free yang disponsori oleh Garena, saya pun mendapatkan banyak pengalaman selama dua hari penuh pada event tersebut. Padahal, Instanid sendiri baru launch sebulan. Namun hal ini tentunya menjadi kesempatan saya untuk menjalin networking dengan banyak orang disana dan menjaring insight dari berbagai expert yang hadir.

Pengalaman demi pengalaman saya dapatkan berkat 2 hari di Tech in Asia, Berikut ini adalah pengalaman yang saya kemas menjadi tips and trick pada Tech in Asia (TIA) Jakarta 2016:

1. e-Mail is King
Ketika anda terjun ke dunia bisnis, tentunya tidak lepas dengan notifikasi pada eMail. Jadikanlah eMail sebagai media sosial pertama yang selalu anda cek. Sebulan setelah saya mendaftar TIA Jakarta, saya selalu mengecek kotak surel. Informasi dan konfirmasi mengenai TIA akan selalu update setiap minggunya dan itu harus kita akses secara real-time.

2. Discipline or Left Behind
Registrasi ulang dimulai pukul 08:00 WIB. Saya sudah berangkat dari Depok pukul 05:00 WIB dan tiba di sana pukul 07:30 WIB. Hal ini saya lakukan untuk mencegah adanya kemungkinan yang tidak diinginkan seperti kemacetan, salah tempat, dan antrian pada daftar ulang. Saya pun mempunyai waktu leluasa untuk mengenal medan dan menata marketing kit dan tools pada booth Instan Indonesia.

3. Partner for Next Partner
Suatu kebiasaan saya ketika sedang mengikuti sebuah event adalah mencari satu teman awal agar mudah mendekati teman lain dalam proses networking. Reza, CEO Foundermate, menjadi rekan saya saat menjaga booth di sana yang kebetulan bersebelahan. Melalui dia, saya menjadi lebih mudah untuk berkenalan dengan orang lain karena siapa pun yang berkunjung ke booth salah satu dari kami, otomatis akan merekomendasikan ke booth yang satunya lagi. Saya pun mengambil insight banyak dari dirinya. Kami pun juga sering bergantian untuk menjaga area booth saat salah satu dari kami ada yang ibadah, makan siang, speed dating, meet media, atau berkeliling area TIA Jakarta.

4. Do not be Mr. Know It All
Suatu founder startup yang masih seumur jagung biasanya merasa dia mempunyai segalanya dan mengetahui bahwa apa yang dia rencanakan adalah sesuatu yang besar serta yakin memiliki prosentase keberhasilan yang besar. Padahal, banyak orang diluar sana yang sudah lama menggeluti dunia startup merasakan bahwa membangun bisnis bukan lah perkara mudah. Hal ini terjadi saat saya diberikan kesempatan untuk menjelaskan Instanid ke Venture Capital, Developer, dan Media. Mereka adalah orang-orang yang sudah mengikuti perkembangan suatu bisnis dari awal sampai unicorn. Saya lebih banyak mendengarkan banyak saran dan lebih menjelaskan Instanid dari sisi produk. Ketika kita lebih banyak mendengarkan, maka itu akan baik untuk pertumbuhan startup yang sehat.

5. One Minute Pitch
Saat kita presentasi, biasanya kita membutuhkan 10-15 menit untuk memaparkan konten kita kepada target audience. Namun tidak dengan Venture Capital. Saya harus membuat satu menit awal dari lima menit waktu yang disediakan berkesan bagi para investor. Hasilnya memang belum kelihatan, namun setidaknya mereka sudah mengetahui bahwa Instanid itu sudah berjalan dan siap memasuki pasar startup di Indonesia

6. My Booth, My Home
Berbeda dengan pameran lainnya, tentunya TIA Jakarta 2016 ini adalah acara yang bergengsi dan dihadiri oleh berbagai expert. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika waktu kita lebih banyak dihabiskan di luar booth. Saya sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti speed dating, roundtable, dan meet the media. Dari ketiga event tersebut, saya tidak menghadiri roundtable. Event tersebut terlalu memakan waktu banyak untuk menjauhi diri kita dari booth. Berdasarkan pengalaman saya, banyak investor justru “lalu-lalang” di area pameran dan menyamar sebagai pengunjung biasa untuk mengorek potensi dari setiap exhibitor. Bukan hanya mereka, tetapi juga developer, media, mahasiswa, dan berbagai instansi banyak memberikan pengetahuan baru bagi saya. Memaksimalkan dua hari penuh di booth tersebut saya jadi mempunyai peluang banyak untuk mengembangkan Instanid kedepannya.
Kira-kira begitulah hal yang bisa saya bagikan kepada anda. Jangan malu untuk bertanya, jangan menghindari jika ditanya, dan jangan lewatkan peluang. Analisis setiap kesalahan kecil dan ubah pada hari esoknya. Berikan kesan sehat dengan cepat untuk menarik perhatian.

Sampai bertemu di Tech in Asia 2017!

Rezky, CEO Instan Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *